Haruskah ada rasa damai sejahtera ketika mengikuti kehendak Tuhan??

Tentunya pernah membaca kisah Gideon bukan? Kalau belum sungguh terlalu.. haha silahkan baca Hakim-Hakim 6 dan ingat itu ada di prejanjian lama. Ketika itu dizaman Gideon bangsa Israel belum memiliki raja dan hidup mereka telah jauh dari Tuhan sehingga Tuhan menyerahkan mereka ke tangan bangsa Midian, kalau kita membaca di ayat pertama

6:1 Tetapi orang Israel melakukan apa yang jahat di mata TUHAN; sebab itu TUHAN menyerahkan mereka ke dalam tangan orang Midian, tujuh tahun lamanya,

6:2 dan selama itu orang Midian berkuasa atas orang Israel. Karena takutnya kepada orang Midian itu, maka orang Israel membuat tempat-tempat perlindungan di pegunungan, yakni gua-gua dan kubu-kubu.

Bayangkan ketika itu mereka sampai-sampai harus tinggal dia gua-gua, situasi yang bukan hanya dijajah tetapi teraniaya. Nah ketika itu Malaikat Tuhan/Theofani. (Kapan-kapan aku sharing tentang apa itu Theofani, intinya itu bukan hanya Malaikat tetapi wujud Tuhan didalam rupa lain) dan menyuruh Gideon untuk maju berperang dan mengalahkan bangsa Midian. Ketika itu dia berkata:

6:13 Jawab Gideon kepada-Nya: “Ah, tuanku, jika TUHAN menyertai kami, mengapa semuanya ini menimpa kami? Di manakah segala perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib yang diceritakan oleh nenek moyang kami kepada kami, ketika mereka berkata: Bukankah TUHAN telah menuntun kita keluar dari Mesir? Tetapi sekarang TUHAN membuang kami dan menyerahkan kami ke dalam cengkeraman orang Midian.”

dan kalau kita membaca seterusnya ada banyak alasan yang diberikan oleh Gideon, samapai akhirnya dia berkata:

6:17 Maka jawabnya kepada-Nya: “Jika sekiranya aku mendapat kasih karunia di mata-Mu, maka berikanlah kepadaku tanda, bahwa Engkau sendirilah yang berfirman kepadaku.

Singkat cerita Tuhan pun memberikan tanda, tapi ketika itu Gideon masih ragu dan kalu kita membaca kisah Gideon ada beberapa kali ia meragukan Tuhan dan meminta tanda.

Well bukankah kita seringkali demikian, kita sering kali bertanya apakah ini kehendak Tuhan. Entah itu didalam pekerjaan, percintaan, keuangan, dlb. Umumnya orang kristen akan berkat jika itu kehendak Tuhan tandanya pasti ada damai sejahtera. But tunggu dulu. Jika kita membaca kisah Gideon ini Tuhan sendiri yang datang dan bahkan memberikan tanda kepada Gideon tidak juga membuat hati Gideon memiliki damai sejahtera, bahkan masih meragukan.

Aku ingat ketika aku masih SMU aku diberi orang tua ku jajan untuk satu minggu, waktu itu ketika aku berdoa Tuhan memberikan dorongan yang kuat untuk mempersembahkan semua uang jajanku selama satu minggu itu, waktu itu kalau tidak salah hanya Rp.5000,-. Didalam mulut aku berkata ya Tuhan aku akan memberikan. Nah waktu itu aku ketika ibadah aku bertugas untuk menjaga slide lagu di GO studio, waktu persembahan aku berpura-pura tidak melihat kantong persembahan aku pikir Tuhan pasti faham aku ga bisa kasih persembahan coz kantongnya g sampai kesini. Well setelah ibadah tiba-tiba ada seorang wanita yang menghampiri ku dan berkata “waktu aku berdoa mau kasih perpuluhan ku, ga tau Tuhan gerakin aku untuk kasih ke kamu, kalu tidak salah dia ingin memberi Rp 150.000,-”  Hal itu sangat menyentak aku, aku meragukan Tuhan ketika aku takut untuk memberikan seluruh uang jajan ku yang hanya Rp. 5000,-, aku takut aku tidak punya uang untuk jajan, tetapi Tuhan menunjukan Dia mampu kok mengubah lima ribu menjadi 150 ribu (30 x lipat), saat itu aku menolak pemberian wanita itu dan aku meminta dia untuk mempersembahkannya kepada Tuhan.

Bukankah kita juga seringkali demikian? Mempertanyakan dan meragukan kehendak Tuhan.. Pertanyaannya mestikah harus ada damai sejahtera ketika Tuhan menyuruh kita melakukan sesuatu? Jawabannya tidak. Damai sejahtera muncul dari ketaatan kita, bukan sebaliknya damai dulu baru taat.

Mari kita belajar kata asli damai sejahtera. Damai sejahtera berasal dari bahasa Ibrani “Syalom” artinya “kepenuhan/menyeluruh”. Artinya damai sejahtera itu muncul jika kita telah memenuhi sesuatu dengan menyeluruh atau dengan kata lain ketika kita bisa mentaati secara utuh kehendak Tuhan. Well ketika anda ingin melangkah dalam memilih sesuatu dan jika Tuhan telah menyatakan kehendakNya ingat belum tentu harus ada sensasi damai sejahtera itu bahkan hal itu sangat jarang, tetapi ketika kita memilihi untuk tetap melakukannya dan mentaatinya maka hasilnya adalah hal yang luar biasa.

Satu kesaksian lagi, ketika aku keterima di Weatherford waktu itu aku direkrut dalam program GDP (Graduate Development Program). didalam program itu kami dirotasi ke dalam beberapa Business Unit setelah program kami harus memilih 3 Top Choice Business Unit mana yang akan kami pilih sebagai permanent Business Unit. Tentunya aku ingin mengambil sesuatu yang sesuai dengan pendidikanku. Tetapi ketika berdoa, dengan kuat Tuhan menuntunku untuk mengambil BU yang sama sekali tidak pernah terfikirkan atau tercita-citakan sebelumnya. Apakah ada damai sejahtera ohh tentu tidak! ketika itu bahkan aku sempat diragukan oleh salah seorang yang sangat senior, dia malah menyarankan aku untuk memilih yang lain saja karena pekerjaan ini hanya untuk orang2 yang sudah berpengalaman aku masih ga punya pengalaman. Aku sempat bahkan meminta HRD untuk mengganti pilihanku, tetapi akhirnya aku membatalkannya dan memilih untuk tetap percaya. Apakah ada damai sejahtera ohh tidak!, saat permanent placement aku ditempatkan di salah satu BU, well ternyata aku memperoleh bos yang sangat mengesalkan, sangat suka mencari kesalahan. Aku mencoba menjalaninya tetapi semakin tertekan rasanya, sempat aku berfikir untuk keluar dari perusahaan ku dan mencari tempat lain, sempat aku menyesali pilihan ku. Dan berkata Tuha kok begini? But at the end Tuhan menunjukan itu memang adalah rencana Tuhan. Dititik aku sempat berputus asa, tiba-tiba aku mendapat telepon dari salah seorang admin dari salah satu BU yang aku pilih, dan dia menawarkan untuk bergabung dengan BU tersebut. Tentu saja aku menerimanya, singkat cerita manager ini kemudian menawarkan untuk disekolahkan di US, wow ini biasanya hanya bagi orang2 yang sudah berpengalaman 5-10 tahunan. Well sampai di US ketika field training aku diremehkan oleh orang-orng dilapangan, bahkan pernah disebut “cockroach” (kecoa), again apakah harus ada damai sejahtera jawabannya tidak. Ketika kita memilih untuk tetap taat damai sejahtera itu akan mengikuti. Ketika field training aku selalu memotivasi diriku ya memang pengalamanku masih zero, semua butuh proses, tapi aku bisa from zero to hero.Well aku diberkati mendapat mentor lapangan yang sangat sabar untuk mengajarkan bahkan aku diberi kepercayaan dikit demi sedikit untuk me-run alat, melakukan perhitungan, berbicara dengan company man dsb. Aku yakin Tuhan memang memiliki rencana yang luar biasa.

So saat ini apakah kita memilih untuk tetap taat dan melakukan kehendak Tuhan atau menunggu ada damai sejahtera dulu??  Its your choice.. Damai sejahtera mengikuti ketaatan.. GBU

10.10 PM Fort Worth Dallas, Texas (11/04/2011)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s