MENGENAI CERITA NATAL

Image

(gambar diambil dari google search, sebagai ilustrasi)

There is no certainty as to the month or day of the birth [of Jesus]. The Christmas date, December 25…was…borrowed from a pagan festival. ‘December’… seems unlikely, as unsuitable for the pasturing of flocks. A more probable date – is a couple of months earlier”
— (The International Standard Bible Encyclopedia,1986, “Jesus Christ,” p. 1628)–

A. TENTANG KELAHIRAN TUHAN YESUS
Tuhan Yesus tidak mungkin dilahirkan pada bulan Desember, karena saat itu adalah musim dingin dan udara di Palestina sangatlah dingin. Sedangkan pada saat itu para gembala menjaga dombanya pada waktu malam (Lukas 2:8). Sebagai informasi sejak bulan Oktober di daerah Palestina itu adalah musim hujan yang sangat dingin.
 Image
ImageImage
(ilustrasi: Bayi Yesus Kristus dan Gembala di padang, sumber christmasxmas.xanga.com)
“And there were shepherds living out in the fields nearby, keeping watch over their flocks at night.” (Luke 2:8)(NIV) -BibleGateway
“…the last week of December corresponds to the tenth month of the Jewish sacred calendar known as Tebeth, when there are frequent frosts and occasional snow flourishes in Jerusalem…” -The Geography of the Bible; by Denis Baly-
Hari Natal sebenarnya dimulai oleh bangsa-bangsa penyembah berhala yang menyembah matahari. Kemudian tanggal 25 Desember itu diduga pada waktu abad ke-4 dan ke-5 yang sekaligus dikaitkan dengan kebiasaan orang penyembah berhala. Di dalam Catholic Encyclopedia, perayaan Natal tidak terdapat dalam perayaan gereja sebelumnya. Hal ini karena dulunya Hari Natal merupakan kebiasaan bangsa Mesir yang menyembah matahari. Di Roma, tanggal 25 Desember merupakan perayaan pesta untuk menyembah berhala yang dipilih pada tahun 274 oleh Kaisar Armelian sebagai hari lahirnya matahari yang mulai bersinar. Kemudian pada tahun 336 Masehi, Gereja di Roma menetapkan kelahiran Tuhan Yesus pada hari yang sama.
B. KEBIASAAN INI KEMUDIAN MASUK GEREJA
Fakta sejarah menunjukan bahwa hari Natal tidak dirayakan oleh orang Kristen sampai abad ke-2 atau ke-3. Karena Roma adalah dunia penyembah berhala pada saat itu, maka sampai abad ke-4 orang Kristen masih sangat sedikit di Roma. Ketika muncul Kaisar Konstantine yang menerima kekristenan pada abad ke-4, ratusan ribu orang Roma menjadi Kristen karena saat itu menjadi trend dan sedang populer.

Image

Constantine I was the first Roman Emperor to eventually convert to Christianity.(Photograph copyright Guenter Rossenbach/zefa/Corbis, source nationalgeographic.com)

Timbulnya hari Natal dalam dunia kekristenan karena dipengaruhi oleh kebiasaan lama yaitu penyembahan berhala. Sekitar tahun 1642, Perdana Menteri Inggris, Oliver Cromwell, menganggap bahwa pesta Natal berasal dari pesta dewa-dewa. Sehingga dia melarang pesta tersebut di Inggris.

Namun di Jerman, Martin Luther mulai mengembangkan kembali hiasan pohon Natal, ketika ia menghiasi pohon cemara di rumahnya dengan hiasan berbentuk bintang dan lilin-lilin yang menyala. Kemudian hal ini banyak ditiru orang, sehingga kebiasaan itu membudaya di seluruh Eropa bahkan ke seluruh dunia termasuk Indonesia sampai sekarang ini. Demikianlah sejarahnya tanggal 25 Desember dirayakan setiap tahunnya oleh umat Kristen sebagai hari Kelahiran Tuhan Yesus Kristus dan munculnya kembali tradisi hiasan natal.

Image
(ilustrasi tradisi hiasan natal)
C. TRADISI POHON TERANG
Tradisi menghiasi pohon Natal bermula di Eropa. Karena mengalami musim salju pada saat itu, maka pohon Natal dihiasi dengan hisan salju pada tangkainya. Namun karena di Indonesia tidak ada salju maka sebagai pengganti salju diberi kapas/kapuk putih dan pada puncaknya diberi bintang yang bercahaya yang melambangkan bintang Timur yang menuntun orang Majus untuk datang menyembah Tuhan Yesus.
Image

(ilustrasi pohon natal bersalju)

Penggunaan pohon Natal yang hijau masuk ke Inggris dari kepercayaan orang-orang Kristen di bagian Eropa lainnya sebelum mereka menjadi Kristen. Suku Bangsa Celtic dan Teutonic menghormati pohon-pohon pada perayaan kembalinya matahari bersinar sebagai symbol kehidupan yang kekal dan disembah sebagai janji kembalinya matahari. Encyclopedia Britanica lebih jauh menerangkan bahwa: “Kebiasaan tradisional dihubungkan dengan hari Natal. Perayaan hari Natal bersamaan dengan peringatan “pertanian” penyembah berhala dan peringatan matahari pada pertengahan musim dingin.”
Buku Answer To Questions yang ditulis oleh Frederck J. Haskins, mengatakan, “Pohon Natal berasal dari Mesir dan sudah ada sebelum ada perayaan Natal.” Hal ini didukung karena menurut sejarah, pada tahun 700 SM, Pompilius, Raja Romawi, menganjurkan untuk mengadakan upacara guna menghormati Dewa Februus yang dianggap sebagai dewa kesucian dengan menurunkan salju berwarna putih. Upacara ini dilakukan disekitar minggu pertama bulan Desember. Pada minggu kedua yaitu sekitar tanggal 17 Desember, diadakan perayaan untuk menghormati Dewa Saturnalia. Perayaan ini sangat meriah dan orang-orang di Romawi saat itu saling megirimi hadiah, kado, dan pada malam harinya dilakukan pesta obor atau lilin, dan pesta itu merupakan pesta panen.
Image

(ilustrasi kado-kado)

Mereka juga menghiasi rumah-rumah mereka dengan pohon-pohon. Jika kita melihat pada hari Natal banyak bunga-bunga bahkan yang berbentuk bulat, ini semuanya bermula dari kebiasaan orang yang menyembah berhala dewa matahari, dan hiasan yang bulat melambangkan matahari.
Image

(ilustrasi)

Nah sekarang mari kita renungkan, apakah Pesta Natal selama ini untuk memuliakan Tuhan Yesus atau tetap dengan cara iblis yang memolesnya dengan segala macam cara dan rupa-rupa, agar semua terlihat indah, sehingga Pesta Natal itu dirayakan harus berlebihan atau besar-besaran?
Saya sebagai hamba Tuhan memandang orang yang masih berpikir seperti itu agar bertobat. Karena makna Natal dalam Matius 2:2: katanya, “Di manakah raja orang Yahudi yang baharu lahir itu? Karena kami sudah melihat bintangnya di sebelah timur, maka kami datang hendak menyembah Dia.(asked, “Where is the baby born to be the king of the Jews? We saw his star when it came up in the east, and we have come to worship him.”), adalah orang-orang yang datang mau menyembah Tuhan Yesus dan mau mengorbankan hidupnya sebagai persembahan yang sejati (Roma 12:1), yang mau memberi yang terbaik buat Tuhan Yesus, dan mau memakai hartanya hanya untuk kemulian Tuhan Yesus dengan cara membantu para hamba Tuhan yang kekurangan, maupun umat yang kekurang.

Image

(ilustrasi Bayi Yesus)

Kita sebagai gereja Kristus, harus care terhadap orang lain, bukan membanggakan kehebatan gereja atau denominasi gereja. Tuhan datang tidak mencari denominasi gereja, tetapi mencari orang yang hilang dan berdosa (Matius 9:13; 18:11; Yohanes 12:47). Maka merayakan Natal berarti kita memiliki motivasi yang benar sesuai firman Tuhan saja agar kita layak datang untuk menyembah DIA.

Ditulis oleh Ps. Dion Tanggalong (copyright to original author)
Tumbang Malahoi 14 Maret 2012, jam 21.44 WIB (waktu Manuhing)
Dimuat pertama kali di grup Little Flocks di Facebook, editor dan published by Jeannita Adisty (diedit untuk merapikan tulisan, tanpa mengurangi tujuan dari kalimat aslinya/konteks)

One thought on “MENGENAI CERITA NATAL

  1. Memang tetap harus ditentukan kapan hari kelahiran yesus. Maka dari itu, dari semua tanggal, dipilihlah tanggal pagan. Brilliant choice.
    Oya, yesus lahir pas pemerintahan herodes atau augustus?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s