Journey to Manado – An Extravaganza City

HARI PERTAMA

Berkeliling kota Manado untuk pertama kalinya, melihat landscape dan pemandangan sekitarnya mengingatkan aku akan kota Balikpapan dengan jalan yang naik turun dan juga singkapan-singkapan batuannya. Kota ini tidaklah kota yang besar seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Saya memang sedikit tidak beruntung karena di hari pertama, kota Manado dilanda hujan, bahkan ketika perjalanan pesawat saya dari Ujung Pandang ke Menado hampir lebih dari 1 jam pesawat hanya mutar-mutar mencoba untuk mendarat akibat jarak pandang yang terbatas.

Setelah saya sampai di Manado saya dijemput oleh teman sekaligus sodara buat saya (Biondi Sendow). Karena saya ini suka makan (you can see from my body) tentu saja hal pertama yang ingin saya lakukan di Manado adalah menikmati makanan khas yang tidak saya temui di Jakarta entah itu makan tikus dan kelelawar, tetapi apa dinyana saat itu kami tidak jadi karena harus bertemu dengan teman-teman sodara ku ini di salah stau mall yang menjadi icon kota Manado yaitu mantos.

Dalam perjalanan kami sengaja melewati kawasan Citraland yang terkenal dengan Patung Yesus memberkati, monumen ini menjadi ikon terbaru kota Manado dan merupakan monumen Yesus Kristus yang tertinggi di Asia dan ke dua di dunia. Monumen ini dibangun oleh Ciputra bukan hanya sebagai suatu hiasan kota Manado saja namun di monument ini juga mencatat penderitaan warga Manado dan khususnya Ciputra sendiri pada zaman penjajahan Jepang 1942-1945, sungguh sesuatu yang luar biasa bahwa dibalik penderitaan Yesus sanggup untuk memberkati dan mengubah keadaan setiap orang ini juga tercermin dalam kehidupan sang pencetus monumen ini, dimana sebelumnya Ciputra hidup didalam kemiskinan dan ayahnya Tji Sien Poe meninggal sebagai tahanan jepang. Bahkan dalam salah satu wawancara di “kick Andy” Ciputra menceritakan bahwa ia memulai usaha dengan mengumpulkan paku-paku bekas yang kemudian dijual kembali. Namun sekarang kita mengenal Ciputra bukan lagi tukang penjual paku bekas tetapi sebagi insinyur, dan juga sebagai pengusaha yang sukses, ini semua karena Berkat dan Anugerah Tuhan Yesus.

Setibanya saya di mantos saya berkenalan dengan teman-temannya sodara ku ini yang rata-rata masih kuliahan, tapi apa karena usia ku yang sudah lebih ¼ abad (sok tua haha) sehingga saya tidak bisa blend in dengan mereka. Saya pun mencoba untuk mengajak mereka karokean dengan harapan bisa memecahkan suasana, but again suasananya jadi sangat membosankan, 2 jam dilalui serasa berjam-jam. Hari pertama liburan memang tidak begitu berjalan dengan baik namun saya belajar sesuatu yang luar biasa dari monumen Yesus memberkati.

HARI KE-2

Atas rekomendasi teman-teman di FB untuk mencoba sarapan Tinutuan atau bubur Manado di jalan Wakeke. Jalan Wakeke ini merupakan sentra wisata kuliner untuk mencoba makanan khas Manado dan yang menjadi menu andalannya ialah tinutuan (mirip-mirip dengan Jalan Wijilan Jogja yang menjual gudeg sepanjang jalannya). Saya pernah makan bubur Manado di Kalimantan dan di Jogja tetapi memang ternyata lebih mak nyuss menikmati bubur Manado ini di tempat aslinya.

Selesai menikmati bubur Manado kami berangkat menuju Museum Sulawesi Utara, dan memang hampir semua Museum di Indonesia sepi pengunjung dan kurangnya perawatan tidak seperti Musesum-museum yang pernah saya kunjungi di Amerika Serikat seperti Musesum Natural Science, Museum Holocaust, Museum Ripley’s Believe it Or not di Dallas. Disana Museum banyak dikunjungin dan menawarkan banyak daya tarik. Dimuseum Manado ini banyak menyimpan barang-barang peninggalan sejarah namun sayang tidak dilengkapi dengan penjelasan mengenai barang-barang yang dipajang (menurut penjaganya sedang ada renovasi) beruntung ada seorang petugas yang mau menemani saya untuk mengitari museum ini. Ada salah satu barang yang menarik perhatian saya karena memiliki kesamaan dengan motif Dayak Kalimantan, ini memperkuat dugaan saya bahwa antara Dayak dan Orang Minahasa merupakan satu rumpun, yang memang pada akhirnya kebudayaan Minahasa banyak dipengaruhi kebudayaan luar seperti eropa, cina, arab, bugis. Kesamaan lain ialah kesamaan fisik, makanya saya sering dikira sebagai orang Manado hal lain ialah “Cakalele” atau pakaian prajurit perang orang Minahasa yang memiliki kesamaan dengan baju perang dayak.

Setelah dari Museum Manado kami berangkat lagi ke Klenteng Ban Hin Kiong. Klenteng ini merupakan klenteng tertua di Kawasan Indonesia timur, menurut petugas klenteng, klenteng ini dibangun sekitar 400 tahunan lalu dan didedikasikan untuk Dewi Laut. Klenteng ini sudah mengalami beberpa kali renovasi akibat kerusakan perang dan juga pernah satu ketika dibakar masa. Saya sendiri baru mengetahu ketika masuk ke Klenteng kita harus membuka kasut, sungguh suatu penghormatan yang luar biasa akan Tuhan, saya jadi ingat cerita ketika Musa bertemu Tuhan, dan Tuhan menyuruh Musa untuk membuka kasutnya karena tempat yang ia pijak adalah kudus. Kita umat Kristiani memang tidak melakukan hal itu ketika memasuki gereja, bahkan cenderung “kurang ajar” dalam memperlakukan tempat kudus. Beberap kali saya melihat dan mendengar gereja digunakan sebagai tempat mabuk-mabukan dan merokok. Memang gereja bukanlah gedung tetapi mari kita belajar dari dedikasi teman-teman konghucu bagaiman mereka menghargai dewa-dewi mereka.

Selesai menjelejahai wisata budaya, kembali lagi saya diajak oleh sodara saya ini untuk bertemu dengan teman-temannya yang lain, sedikit malas awalnya karena mengingat pengalaman sebelumnya. Memasuki kawasan kosan temannya teman ku ini berjejer banyak mobil dan memang kosan ini terlihat sebagai salah satu kosan mewah di Kota Manado. Orang-orang Manado memang ter stereotype sebagai orang yang “hedon” dan bahkan ada jargon untuk manado yaitu “Menang Tampang Doang”. Ketika berkenalan dengan mereka, ternyata mereka orang-orang yang ramah dan menyenangkan bahkan kita sempat masak bareng (walau hanya masak omelet dan chicken wings), sharing dan curhat untuk ukuran baru kenal proses blend in nya sangat cepat, kita bahkan memutuskan untuk hang out di pantai Malalayang bahkan saya kagum ketika mendengar cerita Gladys salah satu teman baru ini, walau memang dia berasal dari keluarga berada tetapi semangat juang dan kreatifitas kerjannya saya acungi jempol, jadi benar kata pepatah “Don’t judge the book by its cover”.

Pantai Malalayang adalah salah satu spot yang baik untuk sekedar kongkow dengan teman-teman, disana banyak kedai-kedai yang menjual gorengan dan sambil duduk menikmati sunset sangat indah. Walau sebenarnya temapt ini masih bisa dikembangkan menjadi lebih baik misal dengan membuat jogging track di pinggiran pantainya. Memang saya memperhatikan pembanguna kota Manado ini lebih kearah pantai ketimbang naik kearah datarang yang lebih tinggi, dimana hal ini kurang begitu baik mengingat Manado juga adalah daerah yang rawan akan tsunami, mungkin karena kemudahan memperoleh lahan dengan melakukan reklamasi pantai namun perlu diingat reklamasi pantai juga memiliki berbagai dampak negative antara lain memperluas potensi pencemaran akibat dekatnya pemukiman atau pusat-pusat keramaian dengan kearah laut sehingga limbah-limbah rumah tangga, industry akan memperluas potensi pencemaran yang dapat meruska ekosistem laut, dampak lain ialah erosi dan abrasi pantai, dan juga perubahan tata air permukaan yang menimbulkan genangan air dan bahaya banjir. Entah apakah sudah dilakukan AMDAL atau tidak.

HARI KE-3

Pada hari ketiga saya memutuskan untuk pergi ke kampung teman saya di Sonder, dan juga melihat object wisata disekitar Sonder, seperti Bukit Kasih, Bukit Doa, & Danau Tondano. Di Sonder saya disambut hangat oleh keluarga teman saya ini, keluarga ini adalah keluarga petani mungkin karena sebagian besar mata pencaharian di Sonder adalah Pertanian seperti Cengkeh, Pala, Kelapa, Padi dsb, diyakini bahwa sonder dulunya hanya merupakan daerah perkebunan oleh orang-orang minahasa namun karena daerahnya subur, berpanorama exotis dan nyaman, serta memiliki banyak sumber mata air maka orang-orang asli minahasa zaman dahulu mulai bermukim didaerah tersebut. Semenjak awal abad ke-19 orang Sonder dikenal dengan semangat bertani dan berwiraswasta yang tinggi.

Pada pagi harinya aku menyempatkan untuk berkeliling dengan berjalan kaki di Sonder, melihat masih banyaknya rumah-rumah adat minahasa dan hampir setiap meter terdapat gereja di desa ini. Dan didesa ini saya melihat kehidupan orang-orang Minahasa yang menjaga nilai-nilai kekristenan dan hidup dalam kesederhanaan dan keramahan. Sonder sungguh mematahkan stigma tentang orang Manado yang hidup “hedon”.

Pagi itu juga saya dan sodara saya ini pergi untuk menjelejahi tempat wisata disekitar Sonder. Destinasi pertama kali ialah Bukit Kasih. Bukit Kasih terletak di Kawangkoan, tempat ini terkenal sebagai wisata religi dimana terdapat 5 rumah ibadah (Kristen, Islam, Budha, Hindu & Katholik) berdampingan dan juga disini terdapat sebuah salib yang sangat besar, tempat ini diyakini menjadi tempat asli nenek moyang suku Minahasa, Toar dan Lumimuut tinggal. Terlihat dari ukiran Wajah mereka di lereng bukit. Mendaki kebukit kasih awalnya sangat menyenangkan namun lambat laun terasa sangat melelahkan karena tangganya yang curam ditambah asap belerangnya.

Sehingga saya sempat berkelakar ..”ini bukan bukit kasih namanya.. ini bukit golgota.. bukit penderitaan..” hehe tapi saya salut melihat oma-oma yang sambil mendengarkan lagu rohani dan tetap mendaki sampai ke puncak salib. Mungkin kalau seperti bangsa Israel saya termasuk orang yang bersungut-sungut hehe. Namun sangat disayangkan sekali tempat wisata yang indah ini tidak disertai dengan perawatan yang memadai. Banyak aksi-aksi vandalism terhadap tracking-tracking jalan salib dan bahkan jembatannya mengingatkan saya akan film “Final Destination”.. sangat menyeramkan hehe..Saran saya sebelum ke bukit kasih sempatkan untuk mampir didaerah kawangkoan untuk menikmati bak pao babi ditemanin kopi susu dan membeli kacang kawangkoan sadap sekali…

Setelah dari Bukit Kasih saya pergi ke Danau Tondano. Danau ini adalah danau terluas di provinis Sulawesi Utara. Konon danau ini terjadi karena letusan yang dahsyat karena ada kisah sepasang insan manusia yang berlainan jenis melanggar larangan orang tua untuk kawin (bahasa Minahasa: kaweng) dengan nekat lari (tumingkas) di hutan. Sebagai akibat melanggar nasihat orang tua maka meletuslah kembaran gunung kaweng tersebut sehingga menjadi danau Tondano. Di Tondano ini pula saya melihat begitu suburnya tanah pertaniannya ditambah hawanya yang sejuk mengingatkan saya akan Jogja dengan banyak persawahannya.

Dari Tondano saya melanjutkan perjalanan ke Bukit Doa di Tomohon. Hanya dengan membayar 5000 rupiah kita bisa menikmati pemandanga dan sekaligus berdoa ditempat ini. Tempat ini sangat cocok untuk tempat retreat atau ibadah padang, karena memang disediakan tempat menginap dan juga terdapat amphitheater. Di bukit doa ini saya menyempatkan untuk berdoa di sebuah kapel, memang awalnya sedikit terganggu dengan suara orang disekitar kapel, namun suasana tempatnya masih mampu membawa kita dalam doa yang khusuk.

HARI KE-4

Di hari keempat saya hanya memusatkan perhatian untuk membeli oleh-oleh di kota Manado sebelum balik ke Jakarta. Kali ini saya ditemani oleh Rico (salah seorang teman saya). Saya dari awal ingin sekali jalan-jalan keliling manado dengan naik angkot, ternyata kota Manado hanya memiliki 2 trayek angkot. Tempat oleh-oleh terkenal di kota Manado ada di Merciful Buildings, disana saya membeli kacang halua kenari, Klapataart, kacang kuk dan juga sedikit cakalang fufu. Namun untuk membeli Cakalang Fufu memang sebaiknya di Jl. Samrat dekat KONI.

Mungkin karena tampang teman saya ini yang agak kebule-bulean sedangkan saya masteng (alias mas-mas tengik) haha saya sempat dikira membawa bule, padahal saya lah yang menjadi turisnya hehe. Rico ini adalah teman dari teman saya, namun kebetulan ayahnya dulu bekerja di satu perusahaan dimana saya bekerja sekarang, itupun perkenalan melewati jejaring sosial. Setelah membeli oleh-oleh kami berdiskusi dan sharing, terutama ialah tentang bagaimana Tuhan berkarya didalam hidup saya. Satu hal yang saya katakan kepada Rico bahwa saya tidak bosan untuk menceritakan bagaimana Tuhan itu begitu nyata didalam hidup saya. Artinya tidak peduli anda kenal orang tersubut dimana, dan kapan, jika bisa luangkanlah waktu untuk menceritakan tentang Tuhan.

Dari perjalanan liburan di kota Manado ini banyak hal yang saya pelajari, banyak hal yang memberkati hidup ku. Aku menyebut Manado sebagai Extravaganza City. Kota yang penuh daya tarik hiburan.. saya membuat suatu status di FB tentang kota Manado sebagai penutup kisah saya:

Time to say goodbye to Manado an extravaganza city. Five days in it make learn about drama and also friendship, modesty and also “hedonism” life style, and the last one is love.. Now I have a reason to come back to this city again…. (note: love – kasih)

One thought on “Journey to Manado – An Extravaganza City

  1. Like this note🙂
    Learned many things from your great experiences…
    Thanks for sharing kak!
    Keep sharing and be blessed!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s