Embun Pagi

Embun pagi yang menetes masih bertahan walaupun matahari telah muncul dan memancarkan panasnya. Embun pagi yang menjadi manna saja pun hanya bertahan sampai siang hari, embun pagi apakah ini????, Embun pagi ini yang memberi kesegaran di tengah padang gurun yang tak ber-oase, embun pagi ini memberi secercah kehidupan
Haruskah aku menuliskannya dalam gulungan kitab agar semua generasi dapat membaca dan mempelajarinya…????, bahwa hati yang kering ini telah di basahi oleh embun pagi yang segar, namun tetaplah ia hanya embun….sampai kapan kah ia akan bertahan????
Haruskah aku menuliskannya di palang-palang pintu menjadi suatu tanda peringatan???… bahwa, hidup ini ibarat embun pagi, saat pagi ia muncul dan saat siang ia mulai pudar dan hilang…., betapa lelahnya menjalani hidup ini…

Manusia mengalami beberapa jalur penderitaan, yaitu lahir, hidup, sakit, mati, perpisahan, dan cinta juga merupakan penderitaan yang tiada berujung. Mengapakah tidak ada yang belajar, mulailah kutuki hari kelahiranmu, kutukilah dirimu, sebab memang dirimu terkutuk.
Hendak lari kemanakah hai engkau anak manusia, larilah..larilah, maka kemanapun engkau pergi engkau akan selalu menemukan dirimu, terkecuali engkau dapat bangun di pagi hari dan merasakan embun pagi membasahi sekujur tubuh mu dan engkau menantikan sang surya terbit. Biarkan embun itu sirna oleh sang surya, namun engkau telah di basahi oleh kesejukan embun pagi………. Tuliskanlah dalam gulungan-gulungan kitab hidupmu agar engkau dapat menjadi suatu surat terbuka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s