Kajian Psikologis dan Theologis mengenai Homosexual – Part 1

Kajian Psikologis dan Theologis mengenai Homosexual

Beberapa waktu lalu kita sudah membahas mengenai masturbasi apakah perilaku tersebut normal atau tidak. Kali ini kita akan mengkaji suatu topik yang kebanyakan gereja menghindar untuk membahasnya, seperti biasa saya akan menyajikan dalam both covers baik itu pandangan yang mendukung dan pandangan yang tidak mendukungnya. Dan kemudian kita mengambil suatu benang merah dari pandangan pro dan kontra.

Menulis ini membutuhkan banyak waktu karena harus mencari banyak referensi dan observasi. Majority kita memahami bahwa perilaku Homosexual adalah dosa, bahkan ada yang mengkategorikan ini sebagai dosa besar. Dan cerita terkenal di kitab suci ialah mengenai penghukuman Tuhan terhadap Sodom dan Gomora. Dimana dari nama kota ‘Sodam’ ini muncul kata Sodomi (analsex), namun benarkah kitab suci menjelaskan hal yang demikian.

PANDANGAN GEREJA

Sekarang pandangan gereja terbagi antara yang mendukung dan yang menentangnya . Saya akan mengambil pandangan gereja Katolik:

“Basing itself on sacred Scripture, which presents homosexual acts as acts of grave depravity, tradition has always declared that homosexual acts are intrinsically disordered. They are contrary to the natural law. They close the sexual act to the gift of life. They do not proceed from a genuine affective and sexual complementarity. Under no circumstances can they be approved” (Catechism of the Catholic Church 2357).

Menurut katekismus Gereja Katholik Homosexual adalah sutau tindakan “grave depravity” = Tindakan bejat, dan secara tradisi gereja homosexual dianggap tindakan yang menyimpang bahkan menentang hukum-hukum alam. Bahkan ditegaskan “under no circumstances” artinya tidak peduli apapun alasannya / situasinya homosexual tidak dapat dibenarkan. Namun ada juga denominasi gereja yang menerima homosexual, salah satunya ialah gereja Episcopal atau di Inggris dikenal sebagai gereja Anglican, bahkan baru-baru ini di Amerika gereja Episcopal mengangkat seorang uskup gay. Namun 80% gereja dari berbagai denominasi Protestan masih menganggap homosexual sebagai dosa, pengecualian bagi aliran Lutheran dimana gereja Lutheran termasuk masih lunak terhadap homosexual yaitu dengan masih mengijinkan seorang homosexual menjadi pelayan gereja asalkan menjauhi tindakan sex sesama jenis.

Dalam salah satu surat yang ditulis oleh Bapa gereja Katolik Paus Paulus II kepada Bishops of the Catholic Church on the Pastoral Care of Homosexual Persons:

“Although the particular inclination of the homosexual person is not a sin, it is a more or less strong tendency ordered toward an intrinsic moral evil; thus the inclination itself must be seen as an objective disorder. Therefore special concern and pastoral attention should be directed to those who have this condition, lest they be led to believe that the living out of this orientation in homosexual activity is a morally acceptable option. It is not.”

Paus Paulus II mengatakan bahwa memang seseorang menjadi homosexual bukanlah “freely choosen” atau kehendak bebas, ini harus diakui sebagai suatu yang bersifat inherent dan secara obyektif tetap salah/tidak benar. Bukan “homosexual activity”nya yang dianggap salah tetapi “homosexualitas” itu sendiri yaitu orientasi atau perasaan secara psikis dan psikologis tertarik dengan sesama jenis ini yang tidak benar. Bukan “dosa” tetapi tidak benar/salah.

PANDANGAN MASYARAKAT UMUM

Sebelum saya membuat artikel ini saya melakukan polling pandangan masing-masing mengenai homosexual 48.39% menganggap homosexual adalah dosa besar dan harus segera bertobat, 16.13% menganggap bukan sebagai dosa melainkan pengaruh genetika, 22.58% menganggap ini merupakan akibat pergaulan yang salah, dan sisanya 16.13% tidak begitu mempermasalahkan asalkan tidak menganggu orang lain.

Mungkin ini juga gambaran umum mengenai pandangan masyarkat kita terhadap homosexual, yaitu hampir 50% akan menganggap ini suatu dosa yang besar sisanya cenderung melunak dan bahkan bisa menerimanya.

Di beberapa Negara maju seperti Amerika dan Eropa, mulai ada gerakan penerimaan terhadap kaum LGBT (Lesbi, Gay, Bisexual, & Transgender). Bahkan ketika saya di US baru saja Negara bagaian New York melegalkan pernikahan sesama jenis. Beberap Negara bagian yang melegalkan pernikahan sesama jenis Connecticut, Iowa, Massachusetts, New Hampshire, New York, and Vermont, plus Washington, D.C.and Oregon’s Coquille and Washington state’s Suquamish Indian tribes. Sedangkan negara-negara di luar US yang melegalkan yaitu: Argentina, Belgia, Belanda, Islandia, Norwegia, Afrika Selatan, Canada, Portugal, Spanyol. Walaupun ada juga negara-negara yang menganggap homosexual sebagai pelanggaran hukum yang beberap bisa dijerat hukuman penjara dan hukuman mati, terutama di negara Afrika dan Timur Tengah.

Note: Warna biru tua : Negara yang mendukung pernikahan sesama jenis. Warna biru muda:Negara yang mengijinkan dengan persyaratan, Warna abu-abu: Negara yang mengakui adanya kaum homosex namun tidak mengakui pernikahan sesama jenis, Orange: Negara yang melarang homosexual (dapat dipenjara), Warna Merah tua: Negara yang memberlakukan hukuman mati bagi homosexual

Kasus yang sangat terkenal adalah hukuman mati bagi remaja Iran pada tahun 2005 yang lalu dimana dua remaja yang berusia 18 tahun dan yang satunya masih dibawah 18 tahun dihukum gantung di Edalat Square di kota Mashhdad Iran, hal ini sempat memancing kemarahan dunia internsional atas tindakan yang dilakukan oleh pemerintah Iran.

Bagaimana dengan Indonesia, walaupun Indonesia adalah negara Muslim terbesar di dunia, negara kita masih bisa menerima keberadaan kaum homosexual tetapi tidak mengakui pernikahan sesama jenii buktinya tidak ada waria atau gay yang dihukum penjara atau hukum mati karena ke homosexualitasnnya.

PANDANGAN MENETANG HOMOSEXUAL

Mengapa homosexual dianggap suatu yang menjijikan atau bahkan suatu hal yang terlarang, padahal ada banyak orang-orang homosexual yang memberikan sumbangsih yang besar bagi masyarakat, ambil contoh saja Dorce Gamalama, walaupun beliau adalah seorang waria namun beliau melakukan tindakan-tindakan sosial yang nyata terhadap anak-anak Yatim piatu bahkan menjadi inspirasi yang bagus mengenai perjuangan hidupnya. Untuk itu mari kita kaji mengapa terbentuk opini menentang homosexualitas.

  1. Pandangan agama

Hampir semua pandangan agama Semawi baik itu Kristen, Islam dan Yahudi secara orthodox menolak homosexual, walaupun ada gerakan penerimaan baik itu dari Kristen, islam dan yahudi sendiri misal adanya imam yang melegalkan pernikahan sesama jenis. Salah satu pernyataan imam Daayiee Abdullah salah satu activis Al-Fatiha Foundation (organisasi yang membela hak-hak LGBT muslim) mengatakan :

By not allowing same-sex couples to wed, there is a direct attack on the Qur’an’s message that each person has a mate who is their ‘comfort and their cloak’”

Namun mainstream semua agama semawi masih satu suara terhadap penolakan ini. Mungkin ini bersumber dari cerita mengenai Sodom dan Gomorah. Baik menurut para penafsir quranic dan biblical kota ini dihancurkan akibat dosa mereka yaitu penyimpangan sexual

Kejadian 19:4 Tetapi sebelum mereka tidur, orang-orang lelaki dari kota Sodom itu, dari yang muda sampai yang tua, bahkan seluruh kota, tidak ada yang terkecuali, datang mengepung rumah itu.

19:5 Mereka berseru kepada Lot: “Di manakah orang-orang yang datang kepadamu malam ini? Bawalah mereka keluar kepada kami, supaya kami pakai mereka.”

Bahkan didalam aturan hukum taurat larangan ini sangat jelas: I

mamat 18:22 Janganlah engkau tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, karena itu suatu kekejian.

Imamat 20:13 Bila seorang laki-laki tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, jadi keduanya melakukan suatu kekejian, pastilah mereka dihukum mati dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri.

Pandangan yang menolak menganggap bahwa sejak semula Tuhan menciptakan manusia itu Laki-laki dan Perempuan, sehingga ketika terjadi hubungan sesame jenis maka ini menentang hukum alam dan hukum Tuhan yang berujung pada penghukuman di neraka.

2. Homosexual menyebarkan HIV/AIDS

Banyak pandangan dan stigma negative menganai perilaku homosexual yang dianggap sebagai salah satu sarana untuk menimbulkan berbagai penyakit kelamin bahkan HIV/AIDS. Walaupun pernyataan ini tidak sepenuhnya benar, menurut data statistic pengidap AIDS terbesar bukanlah dari kalangan homosexual tetapi dari heterosexual akibat perilaku sex bebasnya.

3. Perilaku homosexual cenderung aggressive

Mungkin kalau kita ingat kasus robot gedek atau juga kasu Ryan Jombang, yaitu gay yang membantai pasangan-pasangan sesame jenisnya. Sehingga timbul stigma bahwa perilaku kaum homosexual cenderung anti sosial dan aggressive, walau ada benarnya karena kaum homosexual yang tertutup dalam hubungannya sehingga tingkat kecemburuan dan possessive nya lebih tinggi dari pada kaum heterosexual, namun pandangan ini masih premature. Karena tidak semua kaum gay memiliki aggresivitas seperti itu.

4. Homosexual itu adalah “penyakit” menular

Banyak pandangan yang mengatakan bahwa jika anda bergaul dengan orang homosexual maka anda cenderung juga akan menjadi homosexual. Pertanyaan nya sekarang apakah benar homosexual bisa menular? Penjelasannya akan saya lanjutkan di Part-2 & Part-3

One thought on “Kajian Psikologis dan Theologis mengenai Homosexual – Part 1

  1. Pingback: Kajian Psikologis dan Theologis mengenai Homosexual – Part 2 | littleflocks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s